Foto-foto unik banjir

foto-foto saat peristiwa letusan gunung merapi 2010

Tsunami Dart II System, merupakan sistem mitigasi tsunami yang dapat memberikan sinyal pada daerah pesisir ketika gempa didalam laut terjadi dan berpotensi tsunami

Tsunami Dart II System, merupakan sistem mitigasi tsunami yang dapat memberikan sinyal pada daerah pesisir ketika gempa didalam laut terjadi dan berpotensi tsunami

beberapa contoh upaya mencegah banjir yang merupakan bagian dari mitigasi banjir

video awan panas gunung merapi 05 november 2010.

Mitigasi Bencana Gunung Berapi

Akhir-akhir ini banyak gunung berapi di nusantara mulai aktif melakukan aktivitas vulkanik. Gunung berapi yang aktif sangat rentan untuk menimbulkan letusan, mengeluarkan awan panas, mengeluarkan lava, dan sebagainya. Hal ini sangatlah membahayakan bagi penduduk yang tinggal di sekitar kawasan gunung merapi. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya-upaya yang dapat meminmalisir jika terjadi bencana akibat aktivitas dari gunung merapi tersebut. Untuk meminimalisir jumlah korban jiwa dan kerugian-kerugian akibat letusan gunung berapi, dapat dilakukan upaya-upaya sebagai berikut  :

1.Melakukan pemantauan. Aktivitas gunung api dipantau selama 24 jam menggunakan alat pencatatgempa (seismograf). Data harian hasil pemantauan dilaporkan ke kantor Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (DVMBG) serta pemerintah daerah setempat.

2.Tanggap Darurat, tindakan yang dilakukan oleh DVMBG ketika terjadi peningkatan aktivitas gunung berapi, antara lain mengevaluasi laporan dan data, membentuk tim Tanggap Darurat, mengirimkan tim ke lokasi,melakukan pemeriksaan secara terpadu.

3. Melakukan pemetaan. Pemetaan ini berguna untuk menentukan arah penyelamatan diri, tempat untuk mendirikan tempat pengunngsian, membuat pos penanggulangan bencana. Pemetaan dibuat juga untuk menjelaskan jenis dan sifat bahaya gunung berapi.

4.Melakukan penyelidikan gunung berapi menggunakan metoda Geologi, Geofisika, dan Geokimia. Hasil penyelidikan ditampilkan dalam bentuk buku, peta dan dokumen lainnya.

5.Melakukan sosialisasi kepada Pemerintah Daerah serta masyarakat terutama yang tinggal di sekitar gunung berapi. Bentuk sosialisasi dapat berupa pengiriman informasi kepada Pemda dan penyuluhan langsung kepada masyarakat. 

Oleh : Rafael Jeremia Jonathans 16710295 dan Anggoro Bintang Nur Paksi 16710155

Mitigasi Gempa

Gempa adalah salah satu bencana yang sering melanda Indonesia. Penyebab gempa bermacam-macam, ada yang karena pergeseran lempeng bumi, karena gunung berapi, ataupun karena perbuatan manusia (bom misalnya).

Ketika gempa berlangsung, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan diri dan meminimalisasi korban jiwa, yaitu:

1.      Tetap tenang, dan fokus

2.      Jika sedang berada di dalam gedung, berlindung di bawah meja atau kursi yang kuat, namun jika memungkinkan lebih baik untuk keluar dari gedung

3.      Jika berada di lantai atas dan tidak memungkinkan untuk turun, lebih baik berlindung di sudut ruangan

4.      Jka keadaan benar-benar sudah aman dan gempa sudah berhenti, cek keadaan sekitar jika tidak terjadi patah tulang yang parah, segera keluar dari gedung

5.      Jangan berlindung di bawah tangga

6.      Jika sedang berada di dalam kendaraan, segera hentikan kendaraan, namun jangan berlindung dibawah pohon

7.      Jangan gunakan lift untuk turun dari gedung

 

Oleh : Aulia Eka Fitriani 16710010 dan Arinda Puspita Rachman 16710025

Mitigasi Tsunami yang Efektif

Mitigasi meliputi segala tindakan yang mencegah bahaya, mengurangi kemungkinan terjadinya bahaya, dan mengurangi daya rusaksuatu bahaya yang tidak dapat dihindarkan.Mitigas iadalah dasar managemen situasi darurat.Mitigasi dapat didefinisikans ebagai “aksi yang mengurangi atau menghilangkan resiko jangka panjang bahaya bencana alam dan akibatnya terhadap manusia dan harta-benda” (FEMA, 2000).Mitigasi adalah usaha yang dilakukan oleh segala pihak terkait pada tingkat negara, masyarakat dan individu.

Untuk mitigasi bahaya tsunami atau untuk bencana alam lainnya, sangat diperlukan ketepatan dalam menilai kondisi alam yang terancam. Ada beberapa langkah penting yang efektif untuk mitigasi bahaya tsunami, yaitu:

1. Penilaian Bahaya (Hazard Assessment)

Unsur pertama untuk mitigasi yang efektif adalah penilaian bahaya. Penilaian bahaya tsunami diperlukan untuk mengidentifikasi populasi dan aset yang terancam, dan tingkat ancaman (level of risk).Penilaian ini membutuhkan pengetahuan tentang karakteristik sumber tsunami, probabilitas kejadian, karakteristik tsunami dan karakteristik morfologi dasar laut dan garis pantai.Untuk beberapa komunitas, data dari tsunami yang pernah terjadi dapat membantu kuantifikasi faktor-faktor tersebut.Untuk komunitas yang tidak atau hanya sedikit memiliki data dari masalalu, model numerik tsunami dapat memberikan perkiraan.Tahap aniniumumnya menghasilkan petapotensi bahaya tsunami, yang sangat penting untuk memotivasi  dan merancang kedua unsur mitigasi lainnya, peringatan dan persiapan.

2. Peringatan (warning)

Unsur kunci kedua  untuk mitigasi tsunami yang efektif adalah suatu sistem peringatan untuk memberi peringatan kepada komunitas pesisir tentang bahaya tsunami yang tengah mengancam. Sistem peringatan didasarkan kepada data gempa bumi sebagai peringatan dini, dan data perubahan muka air laut untuk konfirmasi dan  pengawasan tsunami. Sistem peringatan juga mengandalkan  berbagai saluran  komunikasi untuk menerima data seismik  dan perubahan muka air laut, dan untuk memberikan pesan kepada pihak yang berwenang. Pusat peringatan (warning center) haruslah: 1) cepat – memberikan peringatan secepat mungkin setelah pembentukan tsunami potensial terjadi, 2) tepat – menyampaikan pesan tentang tsunami yang berbahaya seraya mengurangi peringatan yang keliru, dan 3) dipercaya – bahwa sistem bekerja terus-menerus, dan pesan  mereka disampaikan dan diterima secara langsung dan mudah dipahami oleh pihak-pihak yang berkepentingan.


3. Persiapan

Kegiatan kategori ini tergantung pada penilaian bahaya dan peringatan.Persiapan yang layak terhadap peringatan bahaya tsunami membutuhkan pengetahuan tentang daerah yang kemungkinan terkena bahaya (peta inundasi tsunami) dan pengetahuan tentang  sistem peringatan untuk mengetahui kapan harus mengevakuasi dan kapan saatnya kembali ketika situasi telah aman. Tanpa kedua pengetahuan tersebut akan muncul kemungkinan kegagalan  mitigasi bahaya tsunami.Jenis persiapan lainnya adalah perencanaan  tata ruang yang menempatkan lokasi fasilitas vital masyarakat seperti sekolah, kantor polisi, pemadam kebakaran,dan rumah sakit berada diluar zona bahaya. Usaha-usaha keteknikan untuk membangun struktur yang tahan terhadap tsunami, melindungi bangunan yang telah  ada dan menciptakan  breakwater penghalang tsunami juga termasuk bagian dari persiapan.


4. Penelitian

Meskipun tidak terkait langsung  dengan aktivitas mitigasi, penelitian yang terkait dengan tsunami sangatlah penting untuk meningkatkan kualitas mitigasi.Riset yang menyelidiki bukti-bukti paleo tsunami, mengembangkan database, kuantifikasi dampak bahaya tsunami, atau pemodelan numerik dapat meningkatkan tingkat akurasu penilaian  bahaya. Teknik sistem peringatan untuk penilaian cepat dan akurat bahaya gempa bumi tsunami genik potensial dari data seismik dan instrumen pengukur muka air laut dikembangkan melalui riset. Penelitian juga mampu meningkatkan cara pendidikan publik sehingga tingkat kepedulian masyarakat akan bahya tsunami meningkat. Menciptakan prosedur evakuasi yang efektif juga membutuhkan riset tersendiri tentang bahaya susulan, terutama pada  kasus tsunami lokal.Penelitian juga memberikan panduan perencanaan tataruang dalam zonainun dasipotensial.Demikian juga  halnya riset mengenai sifat keteknikan untuk meningkatkan daya tahan struktur dan infrastruktur terhadap tekanan tsunami.

Oleh : Zakiyah Ash Shofi 16710115

MITIGASI TSUNAMI

Mitigasi tsunami dapat dilakukan dengan 2 upaya, yaitu:

1.      Upaya struktural, yaitu upaya teknis yang digunakan untuk meredam atau mengurangi energi gelombang tsunami yang akan menuju ke kawasan pantai. Upaya ini juga dapat dilakukan dengan dua cara:

a.      Secara alami, contohnya adalah, penanaman hutan mangrove atau green belt, disepanjang kawasan pantai dan perlindungan terumbu karang.

b.      Secara buatan,contohnya adalah pembangunan breakwater, seawall, pemecah gelombang sejajar pantai untuk menahan tsunami, memperkuat desain bangunan serta infrastruktur lainnya dengan kaidah teknik bangunan tahan bencana tsunami dan tata ruang akrab bencana, dengan mengembangkan beberapa insentif anatara lain, retrofitting dan relokasi. Upaya non-struktural, yaitu upaya non teknis yang menyangkut penyesuaian dan pengaturan tentang kegiatan manusia agar sejalan dan sesuai dengan upaya mitigasi struktural maupun upaya lainnya.

2.      Upaya nonstruktural, contohnya adalahKebijakan tentang tata guna lahan/ tata ruang/ zonasi kawasan pantai yang aman bencana, Kebijakan tentang standarisasi bangunan           (pemukiman maupun bangunan lainnya) serta infrastruktur sarana dan prasarana, Mikrozonasi (meminimalisir) daerah rawan bencana dalam skala lokal, Pembuatan         peta potensi bencana tsunami, peta tingkat kerentanan dan peta tingkat ketahanan, sehingga dapat didesain komplek pemukiman “akrab bencana” yang memperhaikan     berbagai aspek, Kebijakan tentang eksplorasi dan kegiatan perekonomian masyarakat kawasan pantai, Pelatihan dan simulasi mitigasi bencana tsunami, Penyuluhan           dan sosialisasi upaya mitigasi bencana tsunami dan, Pengembangan sistem peringatan dini adanya bahaya tsunami.

  Oleh: Indah Yuliriana (16710260)

Mitigasi Banjir : Sumur Resapan

Dewasa ini banyak sekali kita dengar daerah-daerah di Indonesia yang terkena musibah banjir. Entah itu di daerah dataran rendah seperti Jakarta, maupun daerah dataran tinggi seperti di Bandung. 

Mitigasi banjir sebenarnya mudah, yang diperlukan hanyalah sistem penyerapan air yang baik dan lingkungan yang mendukung. Salah satu sistem penyerapan air sederhana adalah dengan membuat sumur resapan di pekarangan rumah.

Air hujan yang jatuh ke halaman kita setidaknya 85% harus bisa diserap oleh halaman tersebut agar tidak meluapkan banjir. Sumur resapan ini lah yang dapat membantu menyerap sekurangnya 85% dari air hujan yang turun disekitar rumah kita. Selain untuk keperluan mitigasi banjir, sumur resapan ini pun dapat menjadi cadangan air saat musim kemarau datang.

Menurut Satandar Nasional Indonesia (SNI) tentang Tata Cara Perencanaan Sumur Resapan Air Hujan untuk Lahan Pekarangan, beberapa persyaratan umum yang harus dipenuhi sebuah sumur resapan yaitu :

1.      Sumur resapan harus berada pada lahan yang datar, tidak pada tanah berlereng, curam atau labil.

2.      Sumur resapan harus dijauhklan dari tempat penimbunan sampah, jauh dari septic tank (minimum lima meter diukur dari tepi), dan berjarak minimum satu meter dari fondasi bangunan.

3.      Penggalian sumur resapan bisa sampai tanah berpasir atau maksimal dua meter di bawah permukaan air tanah. Kedalaman muka air (water table) tanah minimum 1,50 meter pada musim hujan.

4.      Struktur tanah harus mempunyai permeabilitas tanah (kemampuan tanah menyerap air) lebih besar atau sama dengan 2,0 cm per jam (artinya, genagan air setinggi 2 cm akan teresap habis dalam 1 jam), dengan tiga klasifikasi, yaitu :

·         Permeabilitas sedang, yaitu 2,0-3,6 cm per jam.

·         Permeabilitas tanah agak cepat (pasir halus), yaitu 3,6-36 cm per jam.

·         Permeabilitas tanah cepat (pasir kasar), yaitu lebih besar dari 36 cm per jam.

Selain itu terdapat spesifikasi khusus untuk pembuatan sumur resapan, yaitu:

1.      Penutup Sumur, untuk penutup sumur dapat dipilih beragam bahan diantaranya :

·         Pelat beton bertulang tebal 10 cm dicampur dengan satu bagian semen, dua bagian pasir, dan tiga bagian kerikil.

·         Pelat beton tidak bertulang tebal 10 cm dengan campuran perbandingan yang sama, berbentuk cubung dan tidak di beri beban di atasnya atau,

·         Ferocement (setebal 10 cm).

2.      Dinding Sumur Bagian Atas dan Bawah, untuk dinding sumur dapat digunakan bis beton. Dinding sumur bagian atas dapat menggunakan batu bata merah, batako, campuran satu bagian semen, empat bagian pasir, diplester dan di aci semen.

3.      Pengisi Sumur, pengisi sumur dapat berupa batu pecah ukuran 10-20 cm, pecahan bata merah ukuran 5-10 cm, ijuk, serta arang. Pecahan batu tersebut disusun berongga.

4.      Saluran air hujan dapat digunakan pipa PVC berdiameter 110 mm, pipa beton berdiameter 200 mm, dan pipa beton setengah lingkaran berdiameter 200 mm.

Ayo kita budayakan pembuatan sumur resapan di pekarangan ini untuk mengurangi bahaya banjir yang sewaktu-waktu dapat datang menghampiri kita. Setelah membuatnya, jangan lupa untuk merawatnya yaaa ;)

Oleh: Shinta Rohmatika Kosmaga (16710015)